Jurnal Mantap. Kades Margahayu Tengah, Asep Zaenal Mahmud, mengatakan, saat ini pihaknya baru mencairkan 40 persen anggaran desa 2016. Sedangkan 60 persen dari Rp 820 juta yang diperoleh desanya itu, telah diserap pada gelombang pertama. Terdapat anggaran yang belum terserap sekitar Rp 322 juta, padahal waktu pelaksanaan hanya tersisa waktu sekitar dua pekan.
"Sisa waktu hanya ada dua pekan saja. Kami bingung juga bagaimana anggaran Rp 322 jutaan ini bisa terserap secepat itu, tapi tentunya dengan hasil pengerjaan tetap profesional," kata Asep di Margahayu, Rabu (21/12/16).
Dikatakan Asep, untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian, pihaknya telah mempersiapkan berbagai kegiatan di desanya. Dengan demikian setelah anggaran cair, pihaknya bisa langsung memulai pengerjaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Kata dia, pada 2016 di gelombang pertama, pihaknya menggunakan anggaran desa untuk pembangunan tiga ruas gang, satu ruas jalan, pengadaan sarana air bersih, dan dua unit instalasi pengelolaan sampah.
"Untuk dua pekan ini, pembangunan tiga ruas jalan, satu gang, selokan, dan sarana air bersih, harus selesai. Diperkirakan, beton kering dalam waktu seminggu. Jadi kami yakin semua kegiatan selesai pada akhir tahun,"ujarnya.
Selain kegiatan pembangunan, lanjut Asep, anggaran desa yang bersumber dari APBN ini digunakan untuk pemberdayaan masyarakat. Dalam waktu bersamaan, pihaknya merenovasi tiga rumah tidak layak huni dan pembangunan satu MCK, yang dananya berasal dari program Raksa Desa Pemerintah Kabupaten Bandung.
Kades Dayeuhkolot, Yayan Setiana, menambahkan, pihaknya pun harus mempercepat penggunaan anggaran desa dari APBN ini agar selesai tepat waktu pada akhir tahun. Pada 2016, Desa Dayeuhkolot menerima Rp 690 juta dari APBN yang dicairkan dalam dua gelombang.
"Sebanyak 60 persen sudah dilaksanakan, sisanya 40 persennya masih dalam pelaksanaan. Desa Dayeuhkolot baru mendapat anggaran desa ini dua minggu lalu, karena memang SPJ-nya sudah selesai cepat, cairnya cepat juga,"ujarnya.
Yayan melanjutkan, pada gelombang kedua ini pihaknya lebih menitikberatkan pada kegiatan pemberdayaan masyarakat. Sebab, sebagian besar pembangunan fisik dilakukan pada gelombang pertama dengan nilai lebih besar daripada gelombang kedua.
Kata dia, pemberdayaan ini, meliputi pelatihan kader, pelatihan Bumdes, dan penyediaan prasarana. Pembangunan, katanya, meliputi pembuatan jalan beton di RW 3, pembangunan Pos Kesehatan Desa, pembuatan rambat beton di RW 7, pembangunan PAUD, dan kirmir.
Yayan mengatakan kini pihaknya tengah membuat perencanaan penggunaan anggaran desa dari APBN ini pada tahun depan. Dengan demikian, pembuatan surat pertanggungjawabannya akan lebih cepat dan pencairan anggaran dilakukan secepatnya.