Jurnal Mantap Ada hawa sejuk yang menghinggap ketika saya melewati jalan raya Cibarusah, tepatnya pada sebuah bangunan masjid yang sangat unik sebab terdapat perahu di halamanya. Keteduhan dan uniknya bangunan itu menimbulkan rasa penasaran. Sontak sepeda motor saya parkirkan di warung depan masjid tesebut.

Langsung ku pesan segelas kopi sebagai dialog pembuka kepada si yang punya warung dengan harapan banyak informasi yang bisa didapat tentang masjid yang tidak ada namanya ini, Sebab pada plang nama masjid tidak tertulis sepatah kata pun petunjuk identetitas

Waktu sudah menginjak shalat Ashar. Usai menjalankan kewajiban aku tuntaskan rasa penasaranku pada bangunan yang berada di puncak bukit, persis di belakang masjid perahu jika kita melihatnya dari pinggir jalan.Ternyata bangunan di bawah pepohonan rindang di atas bukit itu berisakan makam,yang pintunya terkunci.


Banyak gambar yang bisa diambi dari sana, diantaranya bunga yang aku tak tau namanya dan juga koloni kupu-kupu.

Tak berhenti sampai disitu, rasa penasaran ini berlanjut dengan banyak pertanyaan pada si pemilik warung, dan pada akhirnya membawa saya pada nama, Bapak Cecep Muharam, yang semasa hidupnya mengabdikan diri pada Seni dan Kebudayaan khususnya, seni ilmu bela diri yang ia sebut seni beladiri Silat Cibarusahan.

Sejurus kemudian aku berada di halaman rumahnya,setelah dipersilahkan masuk pada sebuah studio lukisan kami mulai berbincang dengan terlebih dahulu aku pernalkan diri. Obralan hangat pun terjadi dengan pria yang banyak di kenal dengan “papap” ini. Bertikut adalah petikannya:
Sejak Kapan Ada Makam di Area Mesjid Perahu tersebut?
“Uyutmbahsayapuntidaktahusemenjakkapanmakamituberada”
Namun yang pasti bangunan tersebut adalah makam Mbah Uyut Sena Cibarusah. Ada juga yang menyebutnya Syekh Senan Jaya, keturunan dari pangeran Sangyang yang bersemayam di komplek makam Jayakarta yang berlokasi di Jatinegara Kaum.
Menurut penuturan mbah buyut saya pada tahun 1800an yang asli dari kasapuhan banten jauh dari kala itu sudah ada makam Raden Senapati Bin Raden Zaen Natadilaga.
Karena kalau dilihat dari silsilahnya demikian, uyut saya dari zaman
Raden Husni bin Raden Yunus bin Raden Husen Bin Raden Maskud Bin Raden Samsu Ahmad bin Ahmad bin Senapati Banten .
Darimana Gelar Raden di Cibarusah?
Istilah Raden berasal dari Kesultanan Banten, yakni Sultan Agung Tirtayasa dari situlah gelar Raden Cibarusah.
Tutur cerita Orang Tua
Sedang yang membuka atau membabak jalan ke cibarusah, adalah Mbah Buyut Sena. Yang membuka babak awal Cibarusa h. HIngga nama babak menjadi nama salah satu kampung yang bernama Babakkan yang terletak di Desa Cibarusah Kota. Kampung Babakkan tidak jauh dari lokasi Makam Mbah Buyut Sena
Cibarusah saat itu masih hutan belantara, Mbah Buyut Sena yang membabak atau membuka Cibarusah, jadilah babakan yang awalnya hutan perlahan menjadi ramai. beliaulah yang awal mula menyebarkan Islam disini.
Lantas, Asal Asul Masjid Perahu?
Masjid itu baru di bangun, karena ada yang nyumbang pada tahun-tahun 1980an. Perahu itu mungkin ada historisnya. Namun saya tidak mendalaminya. Tentang siapa yang bangun, itu namanya gak, tau yang pasti kolonel yang ada di Jakarta.

Setalah detelurusi, bangunan berbentuk perahu merupakan tempat berwudhu, sempat terbelesit di pikiran saya mengenai sungai Cipamingkis,sebab jaraknya berdekatan dari tempat ini.
Pencatat penutur: Ekkie Nopriyawan
(Bersambung)