Mon 02 Jan, 2017
.jpg)
Kita seringkali lupa menyadari bahwa saat ini dunia yang kita tinggali memang sebuah dunia tempat batas-batas menjadi sesuatu yang problematis.
Negara-negara bisa saja memiliki batas teritorial. Namun, batas teritorial ini dalam pengertian tertentu bisa kehilangan makna.
Seringkali kebijakan negara tertentu lebih banyak dipengaruhi sesuatu di luar dirinya ketimbang apa yang berkembang di dalam negara itu sendiri. Siapa yang akan jadi Presiden di sebuah negara, sangat mungkin sudah diputuskan di negara lain, oleh aktor yang juga dari negara lain. Anjloknya produksi beras di kawasan delta Sungai Mekong di Vietnam, sangat mungkin menjadi pemicu jatuhnya seorang presiden di negara lain yang bergantung pada pasokan beras mereka.
Runtuhnya batas-batas juga terjadi dalam cara kita menyikapi persoalan di sekitar kita. Dunia saat ini terasa begitu sempit. Kita merasa tidak berjarak dengan banyak hal lain yang secara fisik sebenarnya terpisah jauh dari kita. Sesuatu yang terjadi di Jakarta sana, bisa terdengar begitu nyaring diseluruh pelosok daerah, tak terkecuali Kabupaten Bekasi.
Banyak orang bisa demikian geram karena menyadari bahwa mulut besar Ahok ternyata bisa lebih tajam dari “Silet”-nya Venny Rose. Entah bagaimana, Pilkada DKI Jakarta menjadi lebih menarik perhatian daripada isu Banjirnya Muara gembong. Sidang Jessica atas tuduhan pembunuhan Mirna, jauh lebih populer di Bekasi, sebut saja, penuntasan kasus Islamic Centre, BLK, dan Karang Kitri, bahkan menjadi momok bagi Kabupaten Bekasi dalam proses Pilkada 15 februari nanti. Banyaknya Angka Golput kemungkinan menghiasi seluruh proses Pilkada serentak 2017 akibat ulah pemberi isu dan kerja buruk Mendagri serta KPU RI. (BRT)