Bekasi Pembangunan Budaya Lokal Yang Tersisihkan

Fri 04 Nov, 2016

Bekasi Pembangunan Budaya Lokal Yang Tersisihkan


Pembangunan pada daerah berkembang di Indonesia tak akan luput dari berbagai dampak yang ditimbulkan, mata dan fikir kita diuji untuk mengkaji dari sisi negatif atau positif dampak tersebut berpengaruh kepada masyarakat (manusia) yang seharusnya menjadi objek dari pembangunan itu sendiri. Faktor ekonomi-sosial-budaya dapat berbanding lurus atau bahkan berbanding terbalik dengan realitas pembangunan di masyarakat.

Pembangunan berbasis perekonomian, mikro maupun makro yang ditandai dengan berdirinya kawasan kawasan industri, pusat perbelanjaan, dll berdampak Bekasi sebagai terotorial Kabupaten - Kota menjadi daya tarik bagi penduduk dari berbagai daerah/desa di Indonesia bahkan negara lain (imigran asing) untuk berdatangan mencari kerja dan tempat tinggal.

Arus modal yang kuat tak hanya mengakibatkan eksodus/perpindahan penduduk secara besar besaran dari berbagai daerah di Indonesia bahkan negara asing ke Bekasi. Kekuatan kapital juga menggerus lahan pertanian dan tanah pribumi menjadi pabrik dan perumahan perumahan di tiap kelurahan-desa sehingga mengakibatkan beralihnya mata pencarian penduduk asli yang muasalnya bertani, ternak, lio batu bata,mencari pakerjaan alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan dasarnya .

Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat, terlebih bagi setiap individu lokal karena semakin tinggi tingkat daya saing kompetisi sumber daya manusia yang di butuhkan.

Sudut yang paling sederhana untuk melihat dan mengamati kultur sosial masyarakatdi Bekasi adalah pada saat hari raya Idul Fitri. Fenomena tahunan di 12 kecamatan Kota Bekasi dan 23 kecamatan Kab Bekasi yang terjadi dan dapat disaksikan dengan kasat mata adalah banyaknya perumahan yang kosong ditinggal penghuninya, lapak lapak kosong dipasar tradisonal yang ditinggal pemiliknya, arus lalu lintas yang lenggang di titik titik kemacetan.

Mereka sebagian besar besar penduduk Bekasi hijrah, pulang ke kampung halaman masing masing untuk kembali lagi ke Bekasi sebagai tempat mencari nafkah dan tempat tinggal. Dan dari kebanyakan warga yang tersisadi momen lebaran adalah mereka masyarakat asli Bekasi yang beranak pinak dengan budaya, identitas lokal yang masih terjaga di tiap kelurahan dan desa-desa di Bekasi.

Perubahan lingkungan alam (fisik dan mental) menjadi tantangan tersendiri untuk mempertahankan budaya lokal ke-bekasi-an yang di dalamnya terdapatba hasa sastra lisan "Sunda - Sunda Bekasi", dan "Betawi - Betawi Bekasi" Juga Kesenian lokal (ujungan, Topeng Bekasi, dll) kerap bersinggungan dengan budaya massa (modernitas zaman) yang sering dianggap hanya mewakili selera massa yang bersifat artifisial dan sesaat. Berbeda dengan produk budaya yang mendalam dan subtansial.

Oleh Ekkie Nopriyawan, (Dari berbagai sumber)

Mulai dari Mana?

Pesan website startup hanya Rp 50.000,- / bln, tidak lebih mahal dari segelas kopi vietnam.

Dapatkan Cashback Promosi setiap menginformasikan kepada orang lain sampai turut serta, dan Anda mungkin tak perlu lagi membayar biaya bulanan website Anda.

SSL