Sosok keibuan mengisahkan sesuatu yang bermakna tentang pentingnya sebuah harapan, dimana keyakinan dan ibadah menjadi hal penting dalam pencapaiannya. Berdiri sendiri itu adalah kunci dari kepercayaan, berproses, dan optimisme dalam menjalani kehidupan menuju harta karun.
Sekumpulan harapan muncul dalam kisah pemuda yang mendapat sebuah wasiat berupa petunjuk untuk menemukan emas dan berlian dari ayahanda-nya. Setidaknya ada sebuah titik temu dalam mengubah nasib sang anak. Pemuda itu membaca wasiat ayahnya sambil mencoba memahami kalimat dalam kertas putih tersebut. Ayahanda berkata dalam wasiatnya, “jika engkau ingin menemukan harta karun yang berisi emas dan berlian, hendaklah engkau mandiri, berdiri diatas kakimu sendiri dengan keyakinan dan kepercayaan tentang arah hidupmu, maka disitulah kamu akan menemukan harta yang berisi emas berlian itu.”

Tutup kisah, sosok keibuan menangis tatkala Sinem yang tua renta mengutarakan harapan ingin melepas belenggu kemiskinan dari dirinya. Dengan penuh optimis, merasa masih sanggup untuk berdiri menentukan arah dalam menemukan harta karunnya. Pelukan terus mendarat pada tubuh mungil sang Nenek warga Pasir Putih Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi, sambil meninggalkan pesan agar terus memanjatkan doa kepada Sang Khalik dengan penuh keyakinan.
Kebudayaan, dalam hal ini Jawa Barat mempunyai daya pikat tersendiri di masyarakat. Seperti acara Safari Budaya yang digagas oleh kang Dedi Bupati Purwakarta mencoba menyampaikan banyak nilai yang terkandung dalam kebudayaan Jawa Barat itu sendiri.
Bekasi secara teretorial berada dalam kawasan Provinsi Jawa Barat. Di luar itu Bekasi menjadi kota/kabupaten penyanggah dari Ibu Kota Jakarta. Proses dinamisasi masyarakat melalui akulturasi budaya dan pembauran etnis tidak bisa dibendung seiring laju urbanisasi, perkembangan zaman, dan industrialisasi.
Perkembangan zaman yang terus berubah seiring kemajuan teknologi menjadi tanda tanya bagi masa depan si pelaku, dalam hal ini warga dan masyarakat itu sendiri. Laju perkembangan zaman bisa menjadi pisau bermata dua, yakni mampu menjadi alat yang mempermudah kehidupan, atau sebaliknya. Arus globalisasi menjadi mesin pembunuh kultur dan budaya masyarakat setempat.
Kultur harus menjadi dalang untuk sebuah harapan, sedangkan teknologi sebagai wayang yang harus dimanfaatkan, sehingga harapan itu tercapai.